Digging Into the Philosophy of Malay-Palembang Local Wisdom and Student Cultural Affection: A Critical Phenomenological Approach
Keywords:
Malay-Palembang, Ancestral Philosophy, Cultural Affection, Critical Phenomenology, Youth VoiceAbstract
Traditional higher education curricula often reduce regional languages to static mechanical structures, stripping away the profound philosophical worldviews embedded within indigenous heritage. In Palembang, South Sumatra, rapid urban modernization risks severing the younger generation's connection to their ancestors' existential wisdom, thereby triggering cultural alienation. Nurturing an intimate love, emotional proximity, and long-term pride among modern undergraduate students toward the Malay-Palembang language and literature requires a pedagogical shift toward a deep interrogation of regional philosophy. Unfortunately, empirical studies exploring how youth phenomenologically internalize this ancestral philosophy to cultivate authentic cultural affection remain highly scarce. This critical phenomenological study investigates how 100 undergraduate students perceive the philosophical potential of Malay-Palembang language and literature, and how they frame their future aspirations to foster deeper cultural affection. A qualitative critical phenomenological design was employed to examine the lived experiences of 100 undergraduate students majoring in Indonesian Language and Literature Education at Universitas Sriwijaya, Palembang. Data were gathered through in-depth reflective journals, philosophical essays, and semi-structured focus group discussions, followed by a rigorous critical thematic analysis. The analysis revealed eight primary dimensions: (1) Linguistic Identity Affect, proving that deconstructing philosophical etymology fosters a deep love for the mother tongue; (2) Ethical Oral Tradition Philosophy, utilizing the ethical values in Senjang for character building; (3) Eco-Philosophical River Epistemology, connecting the philosophy of the Musi River with contemporary environmental ethics; (4) Philosophical Materialization of Physical Heritage, interpreting the metaphysical meanings behind Songket motifs and Limas architecture; (5) Philosophy-Based Curriculum, demanding a transition from rigid grammar to wisdom-based learning; (6) Affective-Aesthetic Pedagogy, encouraging emotional immersion in regional arts to ignite cultural passion; (7) Institutional Philosophical Sanctuary, expecting universities to formally protect indigenous knowledge systems; and (8) Global Ontological Diplomacy, aspiring to share the existential philosophy of Malay-Palembang with international audiences.
Downloads
References
Abadi, T., & Wijaya, A. (2023). Dekonstruksi kurikulum bahasa daerah di perguruan tinggi: Upaya mereklamasi nilai-nilai ontologis kearifan lokal Sumatra Selatan. Jurnal Pedagogi dan Pembelajaran Sastra, 11(2), 145–158.
Al-Azhar, M., Husin, F., & Syarifuddin, S. (2024). Konvergensi budaya maritim Sriwijaya dan spiritualitas Islam dalam estetika arsitektur Melayu-Palembang. Jurnal Kebudayaan Sumatra, 19(1), 12–29.
Atika, U. N., & Mayrita, H. (2024). Eksistensi bahasa halus "Bebaso" di kalangan mahasiswa perkotaan Palembang: Kajian sosiolinguistik kritis. Jurnal Inovasi Bahasa dan Sastra, 14(1), 33–47.
Budiarto, R., & Setiawan, H. (2022). Representasi identitas kultural generasi Z dalam konsumsi konten digital lokal di Sumatra Selatan. Jurnal Kajian Budaya Kontemporer, 8(3), 201–216.
Darmawan, I. (2023). Reduksionisme struktural dalam pembelajaran bahasa daerah di perguruan tinggi negeri: Kritik fenomenologi kritis. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 21(2), 112–125.
Fitriani, D., Hasanah, N., & Rahmawati, E. (2025). Menggugat modernitas urban: Alienasi kebudayaan lokal di kalangan pemuda metropolis Palembang. Jurnal Sosiologi Perkotaan Indonesia, 15(1), 88–104.
Hasanah, M., & Rahmawati, L. (2024). Konstruksi afeksi budaya pemuda urban melalui pembelajaran sastra lokal berbasis hermeneutika kritis. Jurnal Estetika dan Pedagogi Budaya, 12(2), 167–182.
Hidayat, S., & Pratama, M. A. (2023). Menggali memori kolektif penutur muda bahasa Melayu-Palembang melalui penulisan kreatif. Jurnal Kreativitas dan Budaya Lokal, 9(4), 310–325.
Ibrahim, A. (2022). Dekolonisasi pendidikan bahasa di era pascakolonial: Upaya integrasi kearifan lokal ke dalam kurikulum perguruan tinggi. Jurnal Teori dan Praktik Pendidikan, 17(2), 95–110.
Kurniawan, D., & Syarif, R. (2024). Agensi pemuda dalam revitalisasi sastra lisan "Senjang" di era disrupsi digital. Jurnal Kajian Sastra dan Budaya, 18(3), 220–235.
Lestari, P., & Wardani, S. K. (2025). Metode fenomenologi kritis dalam penelitian kebahasaan dan pengajaran sastra daerah. Jurnal Hermeneutika Bahasa, 13(1), 45–59.
Mulyadi, H., Utami, T., & Wibowo, F. (2023). Epistemologi air Sungai Musi: Tinjauan ekosofi dan implikasinya terhadap pendidikan karakter mahasiswa. Jurnal Ekologi Kemanusiaan, 10(2), 122–137.
Nugroho, B. (2022). Rekonstruksi sistem pengetahuan pribumi (indigenous knowledge systems) dalam kurikulum pendidikan guru bahasa daerah. Jurnal Pendidikan Karakter Bangsa, 16(2), 75–89.
Putri, K. D., & Erpadellah, E. (2025). Potensi seni tradisional "Senjang" dalam memperkaya muatan lokal berbasis karakter di Sumatra Selatan. Jurnal Pendar Pendidikan, 6(3), 11–26.
Ramadhan, I. (2024). Pedagogi emansipatoris berbasis kearifan lokal Melayu-Palembang dalam perkuliahan apresiasi sastra. Jurnal Pendidikan Sastra Nusantara, 11(1), 54–68.
Sari, N. K., & Hartono, R. (2023). Pemetaan kepunahan dialek lokal Sumatra Selatan dan strategi pertahanan berbasis komunitas pemuda. Jurnal Sosiolinguistik Nusantara, 7(2), 143–158.
Supriyadi, G., Wahid, A., & Suryani, I. (2024). Dampak konsumsi budaya pop global terhadap disintegrasi nilai kearifan lokal di kalangan mahasiswa Sumatra Selatan. Jurnal Kebudayaan dan Globalisasi, 10(1), 76–91.
Utami, R., & Wibowo, S. (2025). Pembentukan ketahanan moral mahasiswa melalui analisis aksiologis motif Songket Lepus Palembang. Jurnal Filsafat dan Etika Sosial, 13(2), 102–117.
Wahid, A. (2023). Reklamasi ontologis bahasa daerah: Lensa fenomenologi kritis dalam menepis alienasi budaya generasi Z. Jurnal Dekolonisasi Pendidikan, 5(2), 189–204.
Zulqaidah, S., Wijaya, A., & Pratama, M. A. (2024). Tantangan penguasaan kosakata bahasa Melayu-Palembang pada penutur muda: Studi kasus mahasiswa FKIP Universitas Sriwijaya. Jurnal Pengajaran Bahasa Indonesia, 15(2), 121–136.
Pratama, M. A. (2025). Guru bahasa daerah sebagai intelektual transformatif: Tantangan kurikulum abad ke-21. Jurnal Guru dan Pembelajaran, 18(1), 40–55.
Suryani, I., & Wijaya, A. (2024). Revitalisasi "Senjang" sebagai media artikulasi kritik sosiokultural pemuda urban Sumatra Selatan. Jurnal Seni dan Kritik Budaya, 12(1), 15–30.
Wijaya, A. (2021). Metafisika dalam arsitektur Rumah Limas Palembang: Sebuah kajian hermeneutika simbolik. Jurnal Estetika Nusantara, 9(1), 74–89.
Ramadhani, F., & Setiawan, H. (2022). Integrasi ekologi budaya maritim dalam pembelajaran geografi sosial di Sumatra Selatan. Jurnal Pendidikan Geografi, 27(2), 112–126.
Hidayat, S. (2021). Menolak punah: Peran teater "Dulmuluk" sebagai media edukasi karakter pemuda Palembang. Jurnal Teater dan Seni Pertunjukan, 8(2), 99–114.
Fatimah, S., & Suryadi, S. (2023). Pemaknaan motif hias Songket Palembang sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Jurnal Kajian Seni Rupa, 10(1), 43–58.
Anwar, K., & Hasanah, N. (2022). Kodifikasi leksikon ekologis Sungai Musi dalam bahasa Melayu-Palembang. Jurnal Dialektologi Lokal, 14(2), 180–195.
Setiawan, B. (2021). Dampak modernisasi pariwisata terhadap otentisitas kearifan lokal masyarakat Kampung Kapitan Palembang. Jurnal Sosiologi Pariwisata, 6(2), 110–124.
Junaidi, J., & Rahmawati, E. (2023). Sikap bahasa mahasiswa penutur asli bahasa Palembang terhadap penggunaan ragam bahasa formal. Jurnal Pembinaan Bahasa, 15(1), 67–82.
Siregar, M. R. (2022). Nilai-nilai sufistik dalam tradisi sastra lisan Melayu-Palembang kontemporer. Jurnal Kajian Keislaman dan Sastra, 11(2), 201–216.
Wardani, S. K., & Lestari, P. (2024). Pembelajaran berbasis kebudayaan daerah (culturally responsive teaching) di perguruan tinggi: Model empiris Sumatra Selatan. Jurnal Inovasi Pendidikan Tinggi, 15(3), 322–337.
Mulyadi, H. (2022). Dekolonisasi kurikulum humaniora di Indonesia: Merebut kembali ruang pengetahuan lokal yang tersingkir. Jurnal Filsafat Pendidikan Indonesia, 9(2), 140–155.
Saputra, A. R. (2023). Konstruksi identitas hibrida pemuda Palembang melalui integrasi busana adat Aesan Gede di era digital. Jurnal Mode dan Budaya, 7(1), 56–71.
Wibowo, F. (2021). Revitalisasi bahasa daerah di era digital: Peluang dan tantangan media pembelajaran berbasis kecerdasan buatan. Jurnal Teknologi Pendidikan, 23(3), 289–304.
Syarif, R. (2022). Saro-saro dan gotong royong: Memori kolektif ketahanan pangan lokal masyarakat Sumatra Selatan. Jurnal Antropologi Indonesia, 43(2), 115–129.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Izzah, Hani Atus Sholikhah, Ernalida, Zahra Alwi, Chrisnatama Tangguh Prasetyo

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.





